Senin, 19 Agustus 2013

ASKEP TIPUS ABDOMINALIS

BAB I
 PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Tifus abdominalis atau tipoid disebabkan bakteri yang disebut salmonella serovariantyphi dan paratyphi. Terdapat ratusan jenis bakteri salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu salmonella serovarian typhi, paratyphi A, paratyphi B, dan paratyphi C. Di Indanesia tifus merupakan penyakit endemis yang berarti kasusnya selalu ada sepanjang tahun. Umumnya penderita tifus meningkat, terutama pada musim kemarau. Saat musim kemarau terjadi kekurangan sumber air bersih dan sumber air yang ada mudah tercemar.
Setiap tahun penderita tifus  didaerah perkotaan di Indonesia mencapai angka 700-800 kasus per 100.000 penduduk/tahun dengan angka kematian lebih dari 20000, dimana 91% kasus terjadi pada usia 2 – 19 tahun . Demam tipoid atau tifus terjadi apabila seseorang terinfeksi kuman salmonella, yang umumnya melalui makanan atau minuman yang tercemar. Apabila jumlah kuman yang masuk ke tubuh cukup untuk menimbulkan infeksi, kuman akan menempel pada saluran cerna kemudian  berkembangbiak. Kemudian kuma berkembang menembus dinding usus dan masuk kealiran darah sehingga  menyebar keseluruh tubuh, menimbulkan infeksi pada organ tubuh lain di luar saluran cerna.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah tipus itu ?
2.      Penyebab tipus ?
3.      Bagaimana tanda dan gejala nya ?
4.      Bagaimana Penangannya ?


C.     Tujuan Penulisan
Untuk memberikan penjelasan tentang penyakit tipus dan bagaimana asuhan keperawatan
yang dapat di lakukan pada klien dengan penyakit tipus

BAB2
PEMBAHASAN
A.    Defenisi
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1998 ).
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 13 tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ). (Mansjoer, Arif 1999).
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran (FKUI. 1999).
B.     Etiologi
Typhoid disebabkan oleh bakteri yang disebut salmonella serovarian typhi dan paratyphi. Terdapat ratusan jenis bakteri salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu:
ü  Salmonella serovarian typhi
ü  Paratyphi A
ü  Paratyphi B
ü  Paratyphi C
C.     Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang
D.    Manifestasi Klinis
Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas) :
ü  Perasaan tidak enak badan
ü  Lesu
ü  Nyeri kepala
ü  Pusing
ü  Diare
ü  Anoreksia
ü  Batuk
ü  Nyeri otot (Mansjoer, Arif 1999).
ü  Menyusul gejala klinis yang lain
1.      DEMAM
ü  Minggu I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari
ü  Minggu II : Demam terus
ü  Minggu III : Demam mulai turun secara berangsur - angsur
2.      GANGGUAN PADA SALURAN PENCERNAAN
ü  Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai tremor
ü  Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan
ü  Terdapat konstipasi, diare
3.      GANGGUAN KESADARAN
ü  Kesadaran yaitu apatis somnolen
ü  Gejala lain ROSEOLA (bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit) (Rahmad Juwono, 1996).
E.     Penatalaksanaan
Sampai saat ini masih dianut trilogi penatalaksanaan demam tifoid, yaitu:
1.      Pemberian antibiotik ; untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran kuman, antiboatik yang digunakan :
a)      Kloramfenikol ; dosis hari pertama 4x250 mg, hari kedua 4x500 mg, diberikan selama demam dilanjutkan  hari kedua bebas demam, kumudian dosis diturunkan sampai 4x250 mg selama 5 hari kemudian.
b)      Ampissilin/amokssilin ; dosis 5-150 mg/KgBB diberikan selama 2 minggu.
c)      Kotrimoksazol ; 2x2 tabet diberikan selama 2 minggu
d)     Sefalosporin generasi II dan III ;
ü  Sefriakson 4 g/hari selama 33 hari
ü   Norfloksasin 2x400 mg/hari selama 14 hari
ü  Siprofloksasin 2x500 mg/hari selama 6 hari
ü  Ofloxasin 600 mg/hari selama 7 hari
ü  Pefloxasin 400 mg/hari selama 7 hari
ü  Fleroksassin 400 mg/hari selama 7 hari
2.      Istirahat dan perawatan profesional :
Bertujuan mencegah komplikasi dan mencepat penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai pulihnya kekuatan pasien. Perlu dijaga personal hygiene, kebersihan tempat tidur, pakaian dan peralatan yang dipakai oleh pasien. Pasien dengan kesadarn menurun, posisinya perlu diubah-ubah untuk mencegah dikubitus dan pneumonia hipostatik. Defikasi dan buang air kecil perlu diperhatikan, kerena kadang-kadang terjadi obstipasi dan retensi urin.


3.      Diet dan terapi penunjang (simptomatis dan suportif)
Pertama pasien diberi diet bubur saring, kemudian bubur kasar, dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Juga diperlukan pemberian vitamin dan mineral yang cukup untk mendukung keadaan umum pasien.



























BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
A.    PENGKAJIAN
*      Identitas
Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no. Registerasi, status perkawinan, agama, pekerjaan, tinggi badan, berat badan, tanggal MR.
*      Keluhan Utama
pada pasien Thypoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung, nafsu makan menurun, panas dan demam.
*      Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit Thypoid, apakah tidak pernah, apakah menderita penyakit lainnya.
*      Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya penyakit pada pasien Thypoid adalah demam, anorexia, mual, muntah, diare, perasaan tidak enak di perut, pucat (anemi), nyeri kepala pusing, nyeri otot, lidah tifoid (kotor), gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma.
*      Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid atau sakit yang lainnya.
*      Riwayat Psikososial
Psiko sosial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien, dengan timbul gejala-gejala yang dalami, apakah pasien dapat menerima pada apa yang dideritanya.
*      Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1.      Pola pesepsi dan tatalaksana kesehatan
Perubahan penatalaksanaan kesehatan yang dapat menimbulkan masalah dalam kesehatannya.
2.      Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi berubah.

3.      Pola aktifitas dan latihan
Pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
4.      Pola tidur dan aktifitas
Kebiasaan tidur pasien akan terganggu dikarenakan suhu badan yang meningkat, sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur.
5.      Pola eliminasi
Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi refensi bila dehidrasi karena panas yang meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
6.      Pola reproduksi dan sexual
Pada pola reproduksi dan sexual pada pasien yang telah atau sudah menikah akan terjadi perubahan.
7.      Pola persepsi dan pengetahuan
Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.
8.      Pola persepsi dan konsep diri
Didalam perubahan apabila pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.
9.      Pola penanggulangan stress
Stres timbul apabila seorang pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.
10.  Pola hubungan interpersonil
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit.
11.  Pola tata nilai dan kepercayaan
Timbulnya distres dalam spiritual pada pasien, maka pasien akan menjadi cemas dan takut akan kematian, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu.

*      Pemeriksaan Fisik
1.      Keadaan umum
Biasanya pada pasien typhoid mengalami badan lemah, panas, puccat, mual, perut tidak enak, anorexia.

2.      Kepala dan leher
Kepala tidak ada bernjolan, rambut normal, kelopak mata normal, konjungtiva anemia, mata cowong, muka tidak odema, pucat/bibir kering, lidah kotor, ditepi dan ditengah merah, fungsi pendengran normal leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
3.       Dada dan abdomen
Dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur, didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan.
4.       Sistem respirasi
Apa ada pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak terdapat cuping hidung.
5.      Sistem kardiovaskuler
Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami peningkatan suhu tubuh.
6.      Sistem integumen
Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat.
7.      Sistem eliminasi
Pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk kemih pasien bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). N ½ -1 cc/kg BB/jam.
8.      Sistem muskuloskolesal
Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan.
9.      Sistem endokrin
Apakah di dalam penderita thyphoid ada pembesaran kelenjar toroid dan tonsil.
  1. persyarafan
Apakah kesadarn itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam penderita penyakit thypoid.
B.    Diagnosa
1.      Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella Typhii
2.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest.
4.      Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah).

C.     Intervensi
DX1 : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typhsi
Tujuan : suhu tubuh normal/terkontrol.
Kriteria hasil :
1.      Pasien melaporkan peningkatan suhu tubuh
2.      Mencari pertolongan untuk pencegahan peningkatan suhu tubuh.
3.      Turgor kulit membaik
Intervensi     :
ü  Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh
Ø  R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul.
ü  Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat
Ø  R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman, pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh.
ü  Batasi pengunjung
Ø  R/ agar klien merasa tenang dan udara di dalam ruangan tidak terasa panas.
ü  Observasi TTV tiap 4 jam sekali
Ø  R/ tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien
ü  Anjurkan pasien untuk banyak minum, minum ? 2,5 liter / 24 jam
Ø  R/ peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
ü  Bemberikan kompres dingin
Ø  R/ untuk membantu menurunkan suhu tubuh
ü  Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tx antibiotik dan antipiretik
Ø  R/ antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk menurangi panas.


DX2      :  Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
              anoreksia
Tujuan   :Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat
Kriteria hasil   :
1.      Nafsu makan meningkat
2.      Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan
Intervensi        :
ü  Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi.
Ø  R/ untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat.
ü  Timbang berat badan klien setiap 2 hari.
Ø  R/ untuk mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan.
ü  Beri nutrisi dengan diet lembek, tidak mengandung banyak serat, tidak merangsang, maupun menimbulkan banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat.
Ø  R/ untuk meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
ü  Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
Ø  R/ untuk menghindari mual dan muntah.
ü  Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi parenteral.
Ø  R/ antasida mengurangi rasa mual dan muntah.Nutrisi parenteral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang.
                    

DX3    :Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bed rest
Tujuan : pasien bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) optimal.
Kriteria hasil :
1.      Kebutuhan personal terpenuhi
2.      Dapat melakukan gerakkan yang bermanfaat bagi tubuh.
3.      memenuhi AKS dengan teknik penghematan energi.



Intervensi :
ü  Beri motivasi pada pasien dan kelurga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan (missal. Miring kanan, miring kiri).
Ø  R/ agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest.
ü  Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (makan, minum).
Ø  R/ untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.
ü  Dekatkan keperluan pasien dalam jangkauannya.
Ø  R/ untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas.
ü  Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
Ø  R/ untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus
DX 4.  :Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah)
Tujuan : tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan
Kriteria hasil :
1.      Turgor kulit meningkat
2.      Wajah tidak nampak pucat
Intervensi :
ü  Berikan penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan pada pasien dan keluarga.
Ø  R/ untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien.
ü  Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan.
Ø  R/ untuk mengetahui keseimbangan cairan.
ü  Anjurkan pasien untuk banyak minum ? 2,5 liter / 24 jam.
Ø  R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan.
ü  Observasi kelancaran tetesan infuse.
Ø  R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya odem.
ü  Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan (oral / parenteral).
Ø  R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpenuhi (secara parenteral).









DAFTAR PUSTAKA
·         Mansjoer, Arief. 2000. Kapita selekta kedokteran jilid 1. FK UI Jakarta : Media Aesculapius
·         Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
·         Marrion, Johnson, PhD, Rn, dkk. 1996. Nursing Outcomes classification. Philadelphia : Mosby
·         Mc Closkey, Joanne C, PhD, Rn, FAAN. 1996. Nursing interventions classification. Philadelphia : Mosby

·         Santoso, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperwatan Nanda. Jakarta : Medika Prima